tatap menghilang jauh
di cakrawala tak berbatas
mega menatap lamunan
tersenyum mengawal hari
surya, memendar
bercoletah dengan bias
sirnalah beban di mata
terserak, tak bersisa
dilantai kayu coklat
kudapati, aku masih menggeliat
ah, mengapa kau cerabut rasaku
memaksanya menyentak melalui rindu
berpilin menjalin kisah yang bertabur
hujan, bahkan tak sempat membisikkan mimpi
yang tak bisa datang tadi malam
ah, mengapa kau lekaskan waktu
padahal masih banyak yang bisa kudaki
menjalani waktu yang tak ingin kusudahi
bebaskan sapuan kuas mewarna hari
lukiskan kuncup dan titik air
di atas daun yang masih terlelap
sesap asap ternyata
tak membuat angan beranjak
hanya nyanyian sepi
tentang waktu yang terlewat
tinggal rinai yang menimpa pagi
menyirna sedu sepi di kisi sunyi
ah, aku masih sendiri
menemani rumput embun bersetubuh
